Gudangnya Penelitian Tindakan Kelas

PTK Bahasa Indonesia Kelas II


PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK DONGENG
DENGAN PENDEKATAN INTEGRATIF
MELALUI TEKNIK DENGAR-CERITA
PADA SISWA KELAS II SD NEGERI 2 ................ KECAMATAN ................


ABSTRAKSI

................................ 2007. Peningkatan Keterampilan Menyimak Dongeng dengan Pendekatan Integratif Melalui Teknik Dengar-Cerita pada Siswa Kelas I SD Negeri 2 ................ Kecamatan .................

Kata kunci: keterampilan menyimak, dongeng, teknik dengar-cerita, pendekatan integratif.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan penulis, keterampilan menyimak dongeng kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ masih rendah. Rendahnya kemampuan siswa dalam menyimak dongeng disebabkan oleh (1) siswa kurang memahami keterampilan menyimak, (2) manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias, (3) teknik pembelajaran menyimak dongeng kurang bervariasi, (4) pendekatan yang digunakan guru belum tepat. Pemilihan pendekatan dan teknik berdasarkan tuntutan KBK memberi kebebasan kepada guru untuk memilih pendekatan dan teknik yang beragam dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengkaji dua masalah yaitu (1) bagaimanakah peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-ccerita pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah mengikuti pembelajaran dan (2) bagaimanakah perubahan perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah mengikuti pembelajaran.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu tahap pratindakan dan tindakan. Tahap tindakan terdiri atas siklus I dan siklus II. Subjek penelitian ini adalah keterampilan menyimak dongeng kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................. Penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu peningkatan keterampilan menyimak dongeng dan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik tes dan nontes. Teknik tes berupa hasil menceritakan isi dongeng. Untuk tes nontes berupa data perilaku siswa dari hasil observasi, jurnal siswa, jurnal guru, wawancara, dan dokumentasi kepada siswa. Teknik analisis data kualitatif menggunakan deskripsi kuantitatif. Kedua teknik tersebut dianalisis dengan membandingkan hasil tes siklus I dan siklus II.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita melalui pendekatan integratif. Nilai rata-rata kelas pada tahap pratindakan sebesar 61 dan mengalami peningkatan sebesar 6,1% menjadi sebesar 67,1. Selanjutnya pada siklus II nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 76,3. Setelah menggunakan pendekatan integratif melalui teknik dengar­cerita juga terjadi perubahan tingkah laku siswa. Siswa yang sebelumnya merasa
kurang antusias terhadap pembelajaran menyimak dongeng menjadi antusias, senang, dan tertarik setelah mengikuti pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis menyarankan kepada guru agar Para guru bahasa dan sastra Indonesia hendaknya berperan aktif sebagai inovator dan fasilitator dalam memilih teknik dan pendekatan yang paling tepat sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat menjadi pengalaman belajar yang positif bagi siswa. Selain itu, pembelajaran dengan pendekatan integratif hendaknya dapat dijadikan alternatif bagi guru bidang studi lain dalam mengajar. Bagi peneliti disarankan agar melakukan penelitian serupa tetapi dengan teknik pembelajaran yang lain.



MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
        Allah tidak akan mengubah nasib manusia sebelum manusia mengubah nasibnya (Q.S. Al-Ra’du:12)
        Sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan. (Al-Hadist)
        Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah (Al-Hadist)



DAFTAR ISI


BAB I PENDAHULUAN    
BAB II
2.2.1.5 Tahap-tahap Menyimak   
2.2.1.6 Teknik Penyajian Pembelajaran Menyimak   
2.2.1.6.1 Teknik Dengar-Cerita         
2.2.1.7 Faktor-faktor Menyimak        
2.2.1.8 Cara Meningkatkan Keterampilan Menyimak               
2.2.1.9 Pemilihan Bahan dalam Pembelajaran Menyimak     
2.2.1.10 Penilaian Keterampilan Menyimak  
2.2.2 Dongeng           
2.2.2.1 Pengertian Dongeng  
2.2.2.2 Jenis-jenis Dongeng   
2.2.3 Pendekatan Integratif   
2.3 Kerangka Berpikir            
2.4 Hipotesis Tindakan          
BAB III METODE PENELITIAN  
3.1 Desain Penelitian
3.1.1 Prosedur Tindakan pada Siklus I   
3.1.1.1 Perencanaan  
3.1.1.2 Tindakan       
3.1.1.3 Observasi      
3.1.1.4 Refleksi         
3.1.2 Prosedur Tindakan pada Siklus II
3.1.2.1 Perencanaan  
3.1.2.2 Tindakan       
3.1.2.3 Observasi      
3.1.2.4 Refleksi         
3.2 Subjek Penelitian
3.3 Variabel Penelitian           
3.3.1 Variabel Keterampilan Menyimak Dongeng          
3.3.2 Variabel Teknik Dengar-Cerita dengan Pendekatan
Integratif               
3.4 Instrumen Penelitian        
3.4.1 Instrumen Tes         
3.4.2 Instrumen Nontes   
3.4.2.1 Observasi      
3.4.2.2 Jurnal            
3.4.2.3 Wawancara   
3.4.2.4 Dokumentasi
3.5 Teknik Pengumpulan Data             
3.5.1 Teknik Tes   
3.5.2 Teknik Nontes         
3.5.2.1 Teknik Observasi      
3.5.2.2 Teknik Jurnal
3.5.2.3 Teknik Wawancara     
3.5.2.4 Teknik Dokumentasi  
3.6 Teknik Analisis Data        
3.6.1 Teknik Kuantitatif    
3.6.2 Teknik Kualitatif      
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian  
4.1.1 Hasil Prasiklus      
4.1.2 Refleksi    
4.1.3 Hasil Siklus I        
4.1.3.1 Hasil Tes
4.1.3.2 Hasil Nontes       
4.1.4 Refleksi Siklus I   
4.1.5 Hasil Penelitian Siklus II    
4.1.5.1 Hasil Tes    
4.1.5.2 Hasil Nontes
4.1.7 Refleksi Siklus II    
4.2 Pembahasan         
4.2.1 Peningkatan Keterampilan Menyimak Dongeng
4.2.2 Perubahan Perilaku Siswa   
BAB V PENUTUP   
5.1 Simpulan            
5.2 Saran      
DAFTAR PUSTAKA           
LAMPIRAN-LAMPIRAN   



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam era pembangunan dewasa ini makin lama makin kita rasakan pentingnya berkomunikasi baik antar anggota masyarakat maupun antar kelompok masyarakat. Alat komunikasi yang ampuh adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia sebagai makhluk sosial dapat berhubungan satu sama lain secara efektif dan dapat menyatakan perasaan, pendapat bahkan dengan bahasa kita dapat berpikir dan bernalar. Bahasa juga memungkinkan manusia untuk saling berhubungan, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan kesusasteraan merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut (Depdiknas 2004: 2). Oleh szebab itu, agar komunikasi berjalan dengan lancar, kita perlu terampil berbahasa baik lisan maupun tulis. Suatu komunikasi dikatakan berhasil apabila pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh penyimak suatu makna atau maksud.
Setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Seseorang yang terampil berbahasa maka jalan pikirannya semakin cerah dan jelas. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa itu pula melatih keterampilan berpikir (Dawson, 1963: 2; dalam Tarigan 1985b: 1).
Mata pelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Menyimak merupakan salah satu bagian dari mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum berbasis kompetensi meliputi aspek kemampuan berbahasa dan aspek kemampuan bersastra. Aspek keterampilan berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis yang berhubungan dengan ragam sastra. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, aspek keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra harus dilakukan secara seimbang.
Penelitian ini memilih keterampilan menyimak karena pada pembelajaran menyimak belum terlaksana dengan baik seperti yang dikemukakan Sutari, dkk (1997: 117-118), dikemukakan beberapa alasan yaitu: (1) pelajaran menyimak relatif baru dinyatakan dalam kurikulum sekolah, (2) teori, prinsip, dan generalisasi mengenai menyimak belum banyak diungkapkan, (3) pemahaman terhadap apa dan bagaimana menyimak itu masih minim, (4) buku teks dan buku pegangan guru dalam pembelajaran menyimak sangat langka, (5) guru-guru bahasa Indonesia kurang berpengalaman dalam melaksanakan pengajaran menyimak, (6) bahan pengajaran menyimak masih kurang, (7) guru-guru bahasa Indonesia belum terampil menyusun bahan pengajaran menyimak, dan (8) jumlah murid terlalu besar.
Kegiatan menyimak banyak dilakukan dalam kehidupan bermasyarakat dibanding dengan keterampilan berbahasa yang lain. Menurut Paul T. Rankin (dalam Tarigan 1994: 129), berdasarkan survei, maka didapat 9% menulis, 16% membaca, 30% berbicara dan 45% menyimak. Dari hasil survei yang ada membuktikan bahwa keterampilan menyimak memegang angka tertinggi.
Menyimak merupakan salah satu faktor penting yang dipergunakan waktu proses belajar mengajar dalam kelas. Hal itu dikarenakan siswa harus bisa menyimak penjelasan guru dengan baik. Jika siswa tidak bisa menyimak dengan baik secara otomatis apa yang disampaikan guru tidak berhasil. Jadi, keberhasilan siswa dalam pelajaran ditentukan oleh baik buruknya siswa dalam hal menyimak. Berdasarkan hal-hal tersebut maka menyimak perlu dikuasai dan ditingkatkan dengan baik.
Pada kenyataannya pembelajaran menyimak kurang diperhatikan dengan baik dan sering kali diremehkan oleh siswa. Hal itu menyebabkan siswa kurang maksimal dalam pembelajaran menyimak. Oleh sebab itu, guru harus bisa memilih cara agar dalam pembelajaran berhasil.

Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam penguasaaan keterampilan menyimak. Kenyataan ini terlihat dalam proses pembelajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia di kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................, yang hanya berorientasi pada teori dan pengetahuan saja sedangkan latihan kurang diperhatikan khususnya keterampilan menyimak.
Pada kenyataannya, keterampilan menyimak khususnya menyimak dongeng siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ masih rendah. Berdasarkan pengamatan kesulitan dalam pembelajaran menyimak dongeng yang ditemukan dalam objek penelitian adalah (1) siswa kurang memahami keterampilan menyimak dongeng, (2) manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias, (3) pendekatan yang digunakan guru belum tepat, (4) teknik pembelajaran menyimak dongeng kurang bervariasi. Hal tersebut menyebabkan keterampilan menyimak dongeng siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ rendah.
Cara yang digunakan untuk keterampilan menyimak dongeng adalah diperlukannya pendekatan dan teknik yang sesuai. Hal itu diharapkan keterampilan menyimak akan mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya hasil pada pembelajaran menyimak dongeng maka siswa akan berhasil dalam proses pembelajaran di kelas.
Pembelajaran dengan pendekatan integratif dan teknik dengar-cerita diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menyimak dongeng siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................. Dalam pembelajaran tersebut kegiatan belajar diaplikasikan sesuai dengan kompetensi dasar yang dimiliki siswa. Materi tidak dipisah-pisahkan, sehingga menggunakan pendekatan integratif. Jadi meskipun keterampilan yang digunakan adalah menyimak maka dipadukan dengan keterampilan berbicara. Dengan cara tersebut diharapkan dapat mengatasi kesulitan belajar siswa.



1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, kesulitan yang diperoleh dalam pembelajaran menyimak dongeng adalah (1) siswa kurang memahami keterampilan menyimak dongeng, (2) manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias, (3) pendekatan yang digunakan guru belum tepat, (4) teknik pembelajaran menyimak dongeng kurang bervariasi.
Faktor pertama adalah siswa kurang memahami keterampilan menyimak dongeng. Oleh karena itu, guru harus memberi pemahaman yang lebih tentang pengetahuan menyimak dongeng dengan benar dan tepat pada siswa. Faktor kedua adalah manfaat yang didapat dari menyimak dongeng dirasakan kurang oleh siswa, sehingga menyebabkan siswa kurang antusias. Hal ini terjadi karena ada anggapan siswa bahwa menyimak dongeng adalah hal yang biasa dilakukan waktu kecil. Oleh karena itu, guru harus menerangkan manfaat yang lebih jauh sebelum pembelajaran menyimak dongeng dimulai.
Faktor ketiga adalah pendekatan yang digunakan guru belum tepat. Hal itu menyebabkan siswa kurang maksimal dalam pembelajaran menyimak, maka guru harus menggunakan pendekatan dalam pembelajaran menyimak. Faktor keempat adalah teknik pembelajaran menyimak dongeng kurang bervariasi. Dalam pembelajaran menyimak biasanya guru hanya melakukan kegiatan yang biasa dilakukan yaitu guru bercerita kemudian siswa yang menyimak. Padahal sebaiknya guru harus memilih teknik yang tepat dalam pemelajaran menyimak dongeng.

1.3 Rumusan Masalah
Dilihat dari identifikasi dan pembatasan masalah di atas, penulis mendapatkan rumusan masalah sebagai berikut:
1)        Bagaimanakah peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita?
2)        Bagaimanakah perubahan perilaku siswa pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita?

1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:
1) Untuk mendiskripsikan peningkatan keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita.
2). Untuk mendiskripsikan perubahan tingkah laku siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita.

1.6 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis dan praktis.
1.      Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan penelitian pendidikan di Indonesia, khususnya pada bidang penelitian tindakan kelas. Penelitian ini juga diharapkan menambah khasanah pengetahuan dan pemahaman bagi pembaca tentang peningkatan keterampilan mernyimak dongeng dengan pedekatan integratif melalui teknik dengar-cerita.
2.      Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi guru, yaitu (1) memberikan masukan pada guru tentang keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, (2) memperkaya khasanah pendekatan dan teknik dalam pembelajaran menyimak dongeng.
Penelitian ini juga dapat memberi manfaat bagi siswa, yaitu (1) meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran menyimak dongeng, (2) dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan pembelajaran menyimak khususnya menyimak dongeng


BAB II
LANDASAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN


2.1 Kajian Pustaka
Penelitian menyimak telah banyak dilakukan. Akan tetapi, hal tersebut masih menarik untuk dilakukan penelitian lebih lanjut, baik penelitian yang bersifat melengkapi maupun yang bersifat baru. Keterampilan menyimak harus dikuasai setiap orang, baik oleh anak, siswa ataupun orang tua. Berikut merupakan contoh kegagalan menyimak dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua yang sering mengeluh ketika memberi perintah kepada anak-anaknya. Anak-anak itu hanya mendengar saja tanpa disimak dengan baik. Hal itu menyebabkan ketidaksesuaian dengan apa yang diperintahkan orang tuanya ketika melaksanakan perintah itu.
2.2 Landasan Teoretis
Dalam landasan teoretis akan dibahas mengenai keterampilan menyimak, dongeng, dan pendekatan integratif.
2.2.1 Keterampilan Menyimak
Pada bagian ini akan dibahas mengenai pengertian menyimak, tujuan menyimak, manfaat menyimak, ragam menyimak, tahap-tahap menyimak, teknik penyajian pembelajaran menyimak, faktor-faktor menyimak, cara meningkatkan keterampilan menyimak, pemilihan bahan dalam pembelajaran menyimak, dan penilaian keterampilan menyimak.
2.2.1.1 Pengertian Menyimak
Keterampilan menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa pertama ketika manusia memperoleh bahasa. Menyimak sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai sarana berinterkasi dan komunikasi. Keterampilan menyimak merupakan keterampilan pertama kali yang digunakan siswa dalam proses pembelajaran sebelum keterampilan yang lain, seperti membaca, berbicara, dan menulis. Dengan demikian keterampilan menyimak adalah keterampilan terpenting sebelum melakukan kegiatan berbahasa yang lain, seperti membaca, berbicara, dan menulis.
Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan yang dilakukan dengan penuh perhatian dan pemahaman, apresiasi dan interpretasi untuk memperoleh suatu pesan, informasi dan menangkap isi pesan tersebut yang disampaikan oleh orang lain melalui bahasa lisan yang telah disimak.

2.2.1.2 Tujuan Menyimak
Menurut Shrope; Logan [et all] (dalam Tarigan 1994: 56-57), tujuan orang menyimak sesuatu itu beraneka ragam antara lain (1) menyimak untuk belajar, (2) menyimak untuk menikmati, (3) menyimak untuk mengevaluasi, (4) menyimak untuk mengapresiasi, (5) menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide, (6) menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi, (7) menyimak untuk memecahkan masalah, (8) menyimak untuk meyakinkan.
Pertama, menyimak untuk belajar. Ada orang yang menyimak untuk memperoleh pengetahuan dari ujaran pembicara. Kedua, menyimak untuk menikmati. Menikmati yang dimaksud adalah untuk menikmati keindahan audial, yaitu menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atas yang diperdengarkan.
Ketiga, menyimak untuk mengevaluasi. Menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai apa-apa yang dia simak itu (baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngaur, logis­tak logis, dan lain-lain). Keempat, menyimak untuk mengapresiasi. Menyimak dengan maksud agar dia dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu.
Kelima, menyimak untuk mengkomunikasikan ide-ide. Orang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Keenam, menyimak untuk membedakan bunyi-bunyi. Orang yang menyimak ini membedakan mana bunyi yang membedakan arti (distingtif) dan mana bunyi yang tidak membedakan arti.
Ketujuh, menyimak untuk memecahkan masalah. Orang yang menyimak agar bisa memecahkan masalah secara kreatif dan analisis. Kedelapan, menyimak untuk meyakinkan orang. Orang menyimak untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan (menyimak secara persuasif).

2.2.1.3 Manfaat Menyimak
Menurut Setiawan (dalam Suratno 2006), manfaat menyimak adalah sebagai berikut ini:
Pertama, menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup yang berharga bagi kemampuan siswa, sebab menyimak mempunyai nilai informatif, yaitu memberikan masukan pada kita agar lebih berpengalaman. Kedua, meningkatkan intelektualitas serta memperdalam penghayatan keilmuan dan khazanah ilmu kita. Ketiga, memperkaya kosakata kita, menambah perbendaharaan ungkapan yang tepat, bermutu dan puitis. Komunikasi menjadi lebih lancar dan kata-kata yang digunakan lebih variatif jika orang banyak menyimak.
Keempat, memperluas wawasan, meningkatkan penghayatan hidup serta membina sifat terbuka dan objektif. Orang cenderung lebih lapang dada, dapat menghargai pendapat dan keberadaan orang lain, tidak picik, tidak sempit lapang dada, tidak fanatik kata jika orang banyak menyimak. Kelima, meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial. Lewat menyimak kita bisa mengenal seluk-beluk kehidupan dengan segala dimensinya. Kita dapat merenungi nilai kehidupan jika bahan yang disimak baik sehingga tergugah semangat kita untuk memecahkan masalah.
Keenam, meningkatkan citra artistik, jika yang kita simak itu merupakan bahan yang isinya semakin halus dan bahasanya indah. Banyak orang yang menyimak dapat menumbuhsuburkan sikap apresiatif, sikap menghargai karya orang lain serta meningkatkan selera estetis kita. Ketujuh, menggugah kreativitas dan semangat mencipta agar kita mampu menghasilkan ujaran-ujaran dan tulisan-tulisan yang berjati diri. Dengan menyimak kita mendapatkan ide-ide yang cemerlang dan segar, serta pengalaman hidup yang berharga. Semua itu akan mendorong kita agar giat berkarya dan kreatif.

2.2.1.4 Ragam Menyimak
Kegiatan menyimak mempunyai bentuk yang beraneka ragam. Ragam menyimak menurut Sutari, dkk (1997: 28-33), diklasifikasikan berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, dan tujuan spesifik.
Berdasarkan sumber suara yang disimak, terdapat dua ragam menyimak, yaitu menyimak intrapribadi dan menyimak antarpribadi. Menyimak intrapribadi adalah suara yang disimak berasal dari diri sendiri, sedangkan menyimak antarpribadi adalah menyimak suara yang berasal dari orang lain.
Berdasarkan taraf aktifitas menyimak dibedakan atas kegiatan menyimak taraf rendah dan taraf tinggi. Menyimak bertaraf rendah disebut silent listening. Menyimak taraf rendah hanya memberikan perhatian, dorongan dan menunjang pembicaran. Sedangkan menyimak taraf tinggi disebut active listening. Menyimak taraf tinggi biasanya diperlihatkan penyimak dengan mengutarakan kembali isi simakan.
Berdasarkan taraf hasil simakan terdapat beberapa ragam menyimak. Pertama, menyimak terpusat. Menyimak ini harus memusatkan pikiran agar tidak salah melaksanakan hasil simakannya itu. Kedua, menyimak untuk membandingkan. Penyimak menyimak pesan tersebut kemudian membandingkan isi pesan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak relevan. Ketiga, menyimak organisasi materi. Yang dipentingkan oleh penyimak adalah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan pembicara, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya. Keempat, menyimak kritis. Penyimak melakukan menyimak secara kritis dengan cara
menganalisis pesan yang disimaknya untuk kejelasan penyimak meminta data lebih lengkap tentang hal yang dikemukakan pembicara. Kelima, menyimak kreatif dan apresiatif. Penyimak ini memberi reaksi lebih jauh terhadap hasil simakannya dengan memberi respon setelah penyimak memahami dan menghayatinya betul pesan itu ia memperoleh informasi yang dapat melahirkan pendapat baru sebagai hasil kreasinya.
Berdasarkan cara penyimakan, ada dua ragam menyimak. Pertama, menyimak intensif. Penyimak ini melakukannya dengan penuh perhatian, ketekunan dan ketelitian sehingga memahami secara mendalam dan menguasai secara luas bahan simakannya. Yang termasuk ke dalam menyimak intensif adalah: menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. Kedua, menyimak ekstensif. Penyimak hanya memahami secara garis besar. Menyimak ekstensif meliputi: menyimak sekunder, menyimak estetik, dan menyimak sosial
Berdasarkan tujuan menyimak, dapat dibedakan menjadi enam jenis. Pertama, menyimak sederhana. Menyimak sederhana terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon. Kedua, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara. Ketiga, menyimak santai. Menyimak santai adalah menyimak untuk tujuan kesenangan. Keempat, menyimak informatif adalah menyimak untuk mencari informasi. Kelima, menyimak literature. Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan. Keenam, menyimak kritis. Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.
Berdasarkan tujuan khusus, Logan dan kawan-kawan (dalam Sutari, dkk 1997: 32-34), mengklasifikasikan menyimak menjadi beberapa jenis. Pertama, menyimak untuk belajar. Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari beberapa hal yang dibutuhkan. Kedua, menyimak untuk menghibur. Penyimak menyimak sesuatu untuk menghibur dirinya. Ketiga, menyimak untuk menilai. Penyimak mendengarkan dan memahami simakan, kemudian menelaah, mengkaji, menguji, membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan banyak. Keempat, menyimak apresiatif. Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Kelima, menyimak untuk mengkomunikasikan ide dan perasaan. Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, perasaan pembicara sehingga terjadi sambung rasa antara pembicara dan pendengar. Keenam, menyimak deskriminatif. Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Ketujuh, menyimak pemecahan masalah. Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif analitis yang disampaikan oleh pembicara.
Adapun kegiatan menyimak ekstensif, antara lain menyimak sosial, menyimak estetika, menyimak sekunder, dan menyimak pasif. (a) menyimak sosial, biasanya berlangsung dalam situasi-situasi sosial tempat orang-orang mengobrol, seperti di pasar, sekolah, terminal, stasiun, kantor pos, dan sebagainya. (b) menyimak
estetika, sering disebut menyimak apresiatif. Menyimak estetika adalah kegiatan menyimak untuk menikmati dan menghayati sesuatu, misalnya menikmati cerita, puisi, menyimak musik atau radio. (c) menyimak sekunder adalah menyimak secara kebetulan. Menyimak pada musik yang mengiringi ritme-ritme dan pada acara radio yang terdengar sayup-sayup sementara kita sedang menulis surat pada seorang teman di rumah. (d) menyimak pasif adalah menyimak suatu ujararan tanpa upaya sadar, misalnya dalam kehidupan sehari-hari pembelajar mendengarrkan bahasa Jawa, setelah dalam waktu 3 tahun ia sudah mahir menggunakan bahasa tersebut. Kemudian menggunakan bahasa Jawa tersebut dilakukan tanpa sengaja.
Kedua, menyimak intensif. Menyimak intensif adalah sejenis kegiatan menyimak yang diarahkan kepada suatu kegiatan yang jauh lebih diawasi, dikontrol terhadap satu hal tertentu.
Adapun jenis-jenis menyimak intensif antara lain menyimak kritis, menyimak konsentratif, menyimak kreatif, menyimak eksploratif, menyimak interogatif, dan menyimak selektif. (a) menyimak kritis adalah kegiatan menyimak untuk mencari kesalahan dari ujaran seseorang pembicara secara sungguh-sunguh, dengan alasan­alasan yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat, serta dinilai secara objektif, menentukan keaslian kebenaran dan keahlain serta kekurangan. (b) menyimak konsentratif adalah kegiatan menyimak yang dilakukan dengan penuh perhatian untuk memperoleh pemahaman yang baik terhadap informasi yang diperdengarkan. (c) menyimak kreatif adalah kegiatan menyimak yang sengaja dilakukan untuk menyenangkan rekonstruksi imajinasi dan perasaan kinaestetik para penyimak. (d) menyimak eksplorasif adalah kegiatan menyimak bertujuan untuk menyelidiki sesuatu lebih terarah dan lebih sempit. (e) menyimak interogatif adalah kegiatan menyimak yang bertujuan memperoleh informasi dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pemeroleh informasi. (f) menyimak selektif adalah menyimak yang dilakukan secara selektif dan terfokus berdasarkan nada suara, bunyi­bunyi asing, bunyi-bunyi yang bersamaan, kata-kata dan frase-frase, bentuk-bentuk ketatabahasaan.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ragam menyimak dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan sumber suara, taraf aktifitas menyimak, taraf hasil simakan, cara penyimakan, bahan simakan, tujuan menyimak, tujuan spesifik, bentuk kegiatan menyimak.

2.2.1.5 Tahap-tahap Menyimak
Tahap-tahap menyimak menurut Tarigan (1994: 5 8-59) ada lima, yaitu tahap mendengar, tahap memahami, tahap menginterpretasi, tahap evaluasi, dan tahap menanggapi.
Pertama, tahap mendengar. Tahap ini kita hanya baru mendengar segala sesuatu yang diujarkan oleh pembicara. Dengan demikian kita masih berada tahap­tahap hearing. Kedua, tahap memahami. Setelah kita mendengar ujaran sang pembicara maka perlu untuk mengerti atau memahami dengan baik. Tahap ini merupakan tahap understanding.
Ketiga, tahap menginterpretasi. Penyimak yang baik, yang cermat dan teliti belum merasa puas kalau hanya mendengar dan memahami isi ujaran oleh pembicara sehingga ia ingin menafsirkan apa yang tersirat dalam ujaran permbicara tersebut. Sehingga tahap ini disebut tahap interpreting.
Keempat, tahap mengevaluasi. Setelah penyimak bisa memahami serta dapat menafsirkan isi pembicaraan maka mulailah penyimak menilai apa yang telah diujarkan oleh pembicara, yaitu tentang keunggulan dan kelemahan. Dengan demikian sampailah pada tahap evaluating. Kelima, tahap menanggapi. Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam kegiatan menyimak. Penyimak bisa menyambut, menyerap serta menerima gagasan yang dikemukakan oleh pembicara. Tahap ini disebut tahap responding.

2.2.1.6 Teknik Penyajian Pembelajaran Menyimak
Dalam pembelajaran menyimak banyak cara/teknik yang diciptakan agar proses belajar mengajar dalam kelas tidak bosan karena monoton, tidak bervariasi. Menurut Sutari (1997: 122), ada banyak teknik penyajian pembelajaran menyimak. Teknik-teknik itu adalah dengar-ucap, dengar-terka, dengar-jawab, dengar-tanya, dengar-sanggah, dengar-cerita, dengar-suruh, dengar-larang, dengar-teriak, dengar­setuju, dengar-bisik berantai, dengar-baca, dengar tulis, dengar-salin, dengar­rangkum, dengar-peringatan, dengar-lengkapi, dengar-kerjakan, dengar-lakukan, dengar simpati, dengar-kata simon, dengar-temukan objek.

2.2.1.6.1 Teknik Dengar-Cerita
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah selama ini masih belum berjalan dengan baik dan optimal. Hal ini dapat dilihat dari prestasi belajar pada pembelajaran keterampilan menyimak kurang. Mengingat betapa pentingnya
keterampilan menyimak dalam kehidupan sehari-hari, maka pembelajaran menyimak harus diperhatikan dan benar-benar dilaksanakan dengan baik. Untuk itu upaya guru dalam mengatasi permasalahan ini dengan mengubah teknik yang dapat membantu siswa mencapai kompetensi secara optimal.
Teknik pembelajaran adalah segala usaha yang dilakukan oleh guru untuk mencapai kompetensi dasar yang akan diajarkan pada siswa dalam pelaksanaan pengajaran di kelas.
Manfaat teknik pembelajaran bagi guru adalah dapat membuat program pembelajaran yang lebih bervariasi dan menarik sehingga minat belajar siswa diharapkan dapat berlangsung efektif, dan guru akan lebih percaya diri ketika menyampaikan materi pembelajaran, karena dapat menghidupkan suasana belajar­mengajar dalam kelas. Pemakaian teknik teknik pembelajaran yang tepat menyebabkan siswa senang belajar dan pembelajaran keterampilan menyimak diharapkan dapat berhasil dengan baik.
Teknik dengar-cerita adalah salah satu teknik penyajian pembelajaran menyimak. Cara yang dilakukan adalah guru memperdengarkan/membacakan rekaman dongeng, puisi, cerpen. Setelah selesai diperdengarkan atau dibacakan kemudian beberapa siswa menceritakan kembali secara singkat garis besarnya saja tentang apa yang telah dilakukan (Sutari 1997: 133).
Teknik dengar-cerita diharapkan dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan apa yang telah disimak.

2.2.1.7 Faktor-faktor Menyimak
a. Faktor-faktor Pemengaruh Menyimak
Menurut Tarigan (1994: 98), ada delapan faktor yang mempengaruhi kegiatan menyimak. Faktor-faktor itu meliputi faktor fisik, psikologis, pengalaman, sikap, motivasi, jenis kelamin, lingkungan, dan peranan dalam masyarakat.
Pertama, faktor fisik. Kondisi fisik seorang penyimak merupakan faktor terpenting yang turut menentukan keefektifan serta kualitas keaktifannya dalam menyimak. Sebagai contoh, ada orang yang sukar sekali mendengar. Dalam keadaan yang sama itu, dia mungkin saja terganggu serta dibingungkan oleh upaya yang dilakukannya untuk mendengar. Secara fisik dia mungkin berada jauh di bawah ukuran gizi yang normal sehingga perhatiannya rendah. Kesehatan serta kesejahteraan fisik merupakan suatu modal terpenting yang turut menentukan keberhasilan menyimak. Oleh karena itu, faktor-faktor fisik yang dapat mengganggu dan menghambat kelancaran proses menyimak perlu disingkirkan.
Kedua, faktor psikologis. Faktor psikologis ini melibatkan sikap-sikap dan sifat-sifat pribadi yang hubungannya dengan menyimak. Faktor-faktor psikologis di antaranya prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara, keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi, kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas, kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali terhadap pokok pembicaraan, sikap yang tidak layak terhadap sekolah, guru, pokok pembicaraan atau sang pembicara. Faktor psikologis yang positif dapat
memberi pengaruh yang baik begitu juga sebaliknya. Faktor psikologis yang negatif dapat juga memberi pengaruh yang buruk pula terhadap kegiatan menyimak.
Ketiga, faktor pengalaman. Sikap-sikap kita merupakan hasil pertumbuhan, perkembangan pengalaman kita sendiri. Kurangnya minat merupakan akibat dari pengalaman yang kurang dalam bidang yang akan disimak. Dengan demikian, latar belakang pengalaman merupakan faktor penting dalam kegiatan menyimak.
Keempat, faktor sikap. Pada dasarnya manusia hidup mempunyai dua sikap utama mengenai segala hal, yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan bagi dirinya tapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik dan tidak menguntungkan bagi dirinya. Kedua hal tersebut memberi dampak pada penyimak, yaitu dampak positif dan dampak negatif.
Sebagai pendidik, tentunya para guru akan memilih dan menanamkan dampak positif pada anak didiknya, khususnya bahan simakan. Menyajikan pelajaran dengan baik, materi yang menarik, serta penampilan yang menarik maka akan membentuk sikap positif pada siswa.
Kelima, faktor motivasi. Motivasi merupakan salah satu butir penentu akan keberhasilan seseorang. Jika motivasi kuat maka yang diharapkan orang itu akan berhasil mencapai tujuan. Begitu juga dengan menyimak. Dorongan dan tekad yang diperlukan dalam mengerjakan sesuatu dalam kehidupan ini. Menerangkan pelajaran dengan baik dan jelas merupakan suatu bimbingan pada para siswa untuk menanamkan serta memperbesar motivasi mereka untuk menyimak secara tekun.
Keenam, faktor jenis kelamin. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli maka pria dan wanita pada umumnya mempunyai perhatian yang berbeda, dan cara mereka memusatkan perhatian pada sesuatu pun berbeda pula.
b. Faktor Penentu Keberhasilan Menyimak
Efektivitas menyimak menurut Tarigan (1991: 380), bergantung pada beberapa faktor yaitu: pembicara, pembicaraan, situasi, dan penyimak. Pertama, pembicara. Pembicara adalah orang yang menyampaikan pesan, ide, informasi kepada para pendengar melalui bahasa lisan. Pembicara harus mempunyai tuntutan yaitu penguasaan materi, berbahasa, percaya diri, berbicara sistematis, gaya bicara menarik, dan kontak dengan pendengar.
Kedua, pembicaraan. Pembicaraan adalah materi, isi, pesan, atau informasi yang hendak disampaikan oleh seseorang pembicara pada pendengarnya. Pembicara yang baik harus memenuhi syarat-syarat yaitu aktual, bermakna, dalam minat pendengar, sistematis, dan seimbang.
Ketiga, situasi. Situasi sangat berpengaruh dan menentukan keefektivan menyimak. Situasi dalam menyimak diartikan sebagai segala sesuatu yang menyertai peristiwa menyimak di luar pembicara, pembicaraan, dan menyimak. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses menyimak antara lain ruangan, waktu, tenang, dan peralatan.
Keempat, penyimak. Penyimak adalah orang yang mendengarkan dan memahami isi bahan simakan yang disampaikan oleh pembicara dalam suatu peristiwa menyimak. Penyimak merupakan faktor terpenting dan yang paling menentukan keefektivan dalam peristiwa menyimak. Hal-hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan menyimak bisa tercapai adalah kondisi, konsentrasi, bertujuan, berminat, mempunyai kemampuan linguistik dan nonlinguistik, dan pengalaman serta pengetahuan yang luas.

2.2.1.8 Cara Meningkatkan Keterampilan Menyimak
Ada sembilan cara untuk meningkatkan keterampilan menyimak menurut Webb (1975: 147) dalam Tarigan (1993: 78), antara lain (1) pahami maksud pembicara, (2) hindari klise gegagah, (3) pahami maksud Anda menyimak, (4) kurangi makna perbedaan dalam bahasa, (5) kenalilah prasangka Anda, (6) kenalilah prasangka pembicara, (7) periksalah fakta-fakta pembicara, (8) simak sampai selesai, (9) gunakan waktu senggang.
Pahami maksud pembicara mempunyai maksud sebagai berikut. Adakalanya pada permulaan pembicaraan untuk menyampaikan pesannya, sang pembicara justru mengutarakan atau menyatakan ataupun mengimplikasikan maksud dan tujuan penampilannya. Simaklah baik-baik butir-butir berharga itu. Cobalah memahami maksud utama pembicaraannya itu sehingga Anda mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh pembicara yang diperoleh penyimak dari ucapannya.
Cara yang kedua adalah hindari klise gegabah. Agar dapat menjadi penyimak yang baik kita harus menghindari kegiatan menyimak gagasan yang terlalu sering
dipakai dan dapat menimbulkan tindakan yang kurang baik. Oleh karena itu, dalam kegiatan menyimak seharusnya menghindari suatu klise yang gegabah.
Cara yang ketiga adalah pahami maksud Anda menyimak. Sebelum kita melakukan kegiatan menyimak maka agar kita berhasil menangkap apa yang kita simak kita harus memahami dahulu maksud kita menyimak. Jika itu bisa dilakukan oleh setiap orang maka kegiatan menyimak akan dapat ditingkatkan.
2.2.1.9 Pemilihan Bahan dalam Pembelajaran Menyimak
Pembelajaran menyimak harus direncanakan dengan bahan yang menarik dan dan dekat dengan kebutuhan siswa. Subyantoro dan Hartono (2003: 5-7 dalam Pangesti 2006), ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: (1) keluasan bahan ajar, (2) keterbatasan waktu, (3) perbedaan karakteristik siswa, dan (4) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Pertama, keluasan bahan ajar. Bahan ajar menyimak dapat diambil dari beberapa sumber. Sumber bahan ajar seharusnya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa. Selain itu materi simakan yang digunakan hendaknya sesuai. Hal itu diharapkan proses belajar mengajar dalam pembelajaran menyimak dapat memuaskan dan menyenangkan baik bagi siswa maupun guru. Kedua, keterbatasan waktu. Dalam
proses pembelajaran guru harus bisa menyesuaikan waktu yang ada dengan bahan yang akan diajarkan.
Ketiga, perbedaan karakteristik pembelajar. Ada beberapa faktor yang menentukan perbedaan karakteristik pembelajar, anatara lain minat, bakat, intelegensi dan sikapnya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan khusus bagi guru untuk memilih bahan simakan yang selaras dengan bakat, minat, dan sikap pembelajar. Keempat, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Bahan pembelajaran menyimak harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Tarigan (1994: 191), menjelaskan bahwa ada beberapa butir-butir pokok yang ada kaitannya dengan upaya untuk membuat bahan simakan bisa menarik. Butir-butir pokok yang dimaksud antara lain tema harus up to date, tema terarah dan sederhana, tema dapat menambah pengalaman dan pemahaman, tema bersifat sugestif dan evaluatif, tema bersifat motivatif, pembicaraan harus dapat menghibur, bahasa sederhana dan mudah dimengerti, harus bersifat dialog bukan duolog melulu.
Pertama, tema harus up to date. Sang pembicara harus memilih bahan-bahan yang terbaru dan mutakhir. Hal itu dilakukan agar pembicaraan yang disajikan dapat menarik perhatian. Kedua, tema harus terarah dan sederhana. Bahan pembicaraan hendaknya jangan terlalu luas. Bahan pembicaraan itu hendaknya topik yang sederhana, jangan terlalu rumit dan sukar. Hal itu dilakukan agar penyimak tidak merasa bosan dan tidak bingung.
Ketiga, tema dapat menambah pengalaman dan pemahaman. Topik yang disampaikan pembicara sebaiknya disajikan untuk memperkaya pengalaman dan mempertajam pemahaman serta penguasaan para penyimak akan masalah itu. Keempat, tema bersifat sugestif dan evaluatif. Pokok pembicaraan yang hendak disampaikan harus merangsang penyimak untuk berbuat dengan tepat serta dapat memberi penilaian yang akan dilaksanakan.
Kelima, tema bersifat motivatif. Tema pembicaraan seyogyanya dapat memberi dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Pembicara mengharapkan agar para penyimak termotivasi setelah menyimak ujarannya. Keenam, pembicraan harus dapat menghibur. Dalam menyimak, orang bisa melupakan kesusahan atau paling sedikit buat sementara pada saat menyimak. Oleh karena itu, pembicara harus bisa membuat humor dan harus pandai berkelakar.
Ketujuh, bahasa sederhana mudah dimengerti. Pembicara hendak menggunakan bahasa yang sederhana tapi mudah dimengerti. Anggapan bahwa suatu ceramah, kuliah, atau pembicaraan yang bermutu harus diiringi oleh istilah-istilah baru kalimat-kalimat yang panjang, rumit adalah keliru. Suatu ceramah tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit akan tetapi pakailah bahasa yang sederhana tapi mudah dipahami. Kedelapan, harus bersifat dialog bukan duolog melulu. Menyimak merupakan suatu sarana penting dan berguna bagi hubungan-hubungan antar pribadi yang bermakna. Oleh karena itu, dialog dibutuhkan dalam kegiatan menyimak. Hal itu disebabkan duolog merupakan kegiatan berbicara tetapi tidak ada yang menyimak.
Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bahan pengajaran menyimak yang paling penting adalah menarik. Jika bahan itu bisa menarik perhatian siswa maka pembelajaran menyimak akan berhasil. Guru harus bisa memilih bahan pengajaran menyimak yang tepat agar pembelajaran menyimak bisa menarik perhatian siswa.

2.2.1.10 Penilaian Keterampilan Menyimak
Kurikulum 2004 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebenarnya dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum yang baru itu akan lebih bermakna jika diikuti oleh perubahan praktik-praktik pembelajaran yang dengan sendirinya akan mengubah praktik-praktik penilaian. Dalam kurikulum 2004 ini diterapkan sistem Penilaian Berbasis Kelas. Sumber data penilaian berbasis kelas ini dapat dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti portofolio (kumpulan kerja siswa), product (hasil karya), project (penugasan), performance (unjuk kerja), dan paper and pen (tes tertulis). Penilaian berbasis kelas ini, evaluasi dilakukan pada proses dan hasil pembelajaran.
Evaluasi keterampilan menyimak dilakukan dari proses dan hasil pembelajaran. Penilaian proses pada keterampilan menyimak dilakukan oleh guru ketika pembelajaran menyimak sedang berlangsung dan guru harus merancang model instrumen penilaian, sedangkan dalam penilaian hasil diperoleh dari hasil simakan siswa yang berupa jawaban-jawaban terhadap pertanyaan yang diberikan oleh guru. Penilaian hasil dapat diperoleh dari tes. Tes pada keterampilan menyimak dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa dalam menangkap dan memahami informasi yang terkandung dalam wacana yang diterima melalui saluran pendengaran. Dalam pelaksanaan pengajaran bahasa di sekolah, khususnya bahasa Indonesia, tes menyimak kurang mendapat perhatian sebagaimana ketrampilan berbahasa yang lain (Nurgiyantoro 2001: 233).
Ada empat tingkatan tes kemampuan menyimak meliputi tingkat ingatan, tingkat pemahaman, tingkat penerapan, tingkat analisis (Nurgiyantoro 2001: 239).
Pertama, tes kemampuan menyimak tingkatan ingatan. Tes kemampuan menyimak pada tingkatan ini hanya menuntut siswa untuk mengingat fakta yang telah diperdengarkan. Bentuk tes yang digunakan dapat berbentuk tes objektif, isian singkat, dan pilihan ganda.
Kedua, tes kemampuan menyimak tingkat pemahaman. Tes kemampuan menyimak pada tingkat pemahaman menuntut siswa untuk dapat memahami wacana yang diperdengarkan. Kemampuan pemahaman dalam tingkat ini masih sederhana dan butir-butir tes belum sulit.
Ketiga, tes kemampuan menyimak tingkat penerapan. Tes kemampuan pada tingkat ini dimaksudkan untuk mengungkap kemampuan siswa menerapkan konsep pada situasi yang baru. Butir-butir tes kemampuan menyimak pada tingkatan ini terdiri dari pernyataan yang diperdengarkan dan gambar-gambar sebagai alternatif jawaban terdapat dalam lembar tugas.
Keempat, tes kemampuan menyimak tingkat analisis. Tes pada kemampuan tingkat ini bertujuan untuk memahami informasi dalam wacana yang akan diteskan engan cara menganalisis. Jadi, butir tes tingkat analisis lebih kompleks dan sulit daripada butir tes pada tingkat pemahaman.

2.2.2 Dongeng
Dongeng merupakan salah satu jenis karya sastra lama yang berkembang di Indonesia. Dongeng mempunyai fungsi sebagai media pendidikan. Dengan dongeng kita dapat memperoleh manfaat yang tersirat dalam isi cerita dongeng itu. Banyak nilai-nilai yang terkandung dalam dongeng. Landasan teori tentang dongeng meliputi pengertian dongeng dan jenis-jenis dongeng.

2.2.2.1 Pengertian Dongeng
Cerita rakyat baik yang bernilai sastra atau bukan adalah bagian dari apa yang disebut foklor. Danandjaja (1991: 20), mengatakan bahwa foklor merupakan bagian dari kebudayaan suatu kolektif yang terbesar dan diwariskan turun-temurun di antara kolektif lain secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak atau alat bantu lain. Oleh karena itu, apa yang timbul dan hidup di dalam wilayah (kolektif) tertentu merupakan bagian dari kebudayaan setempat.
Cerita rakyat pada umumnya dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu mithe, legenda, dan dongeng (Bascom, dalam Danandjaja 1991: 50). Ciri utama mithe adalah cerita yang dianggap orang benar-benar terjadi dan dianggap bernilai sakral; legenda adalah cerita (prosa) rakyat yang dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci; sedangkan dongeng adalah cerita khayal yang tidak mungkin terjadi dan tidak terikat oleh waktu dan tempat.

2.2.2.2 Jenis-jenis Dongeng
Dongeng merupakan salah satu jenis karya sastra di Indonesia. Anti Aarne dan Thompson (dalam Danandjaja 1991: 86), membagi jenis-jenis karya sastra ke dalam empat golongan besar, yakni: 1) dongeng binatang (animal faste) adalah dongeng yang ditokohi binatang peliharaan dan binatang liar, seperti binatang menyusui, burung, binatang melata (reptilia), ikan, dan serangga. Binatang-binatang itu dalam cerita jenis ini dapat berbicara dan berakal budi seperti manusia. 2) dongeng biasa (ordinary folktales) adalah jenis dongeng yang ditokohi manusia dan biasanya adalah kisah suka duka seseorang (Danandjaja 1991: 98). 3) Lelucon atau anekdot adalah dongeng-dongeng yang dapat menimbulkan rasa menggelikan hati sehingga pembaca tertawa. Walaupun demikian bagi kolektif atau tokoh tertentu, yang menjadi sasaran dongeng itu dapat menimbulkan rasa sakit hati (Danandjaja 1991:117). 4) dongeng berumus (formula tales) adalah dongeng yang menurut Anri Aarne dan Thompson disebut formula tales dan strukturnya terdiri dari pengulangan. Dongeng berumus mempunyai beberapa sub bentuk, yakni: (a) dongeng bertimbun banyak (komulatif tales), (b) dongeng untuk mempermainkan orang (catch tales) dan (c) dongeng yang tidak mempunyai akhir (endless tales). Dongeng bertimbun banyak disebut juga dongeng berantai (chain tales) adalah dongeng yang dibentuk dengan cara menambah keterangan lebih terperinci pada setiap pengulangan inti cerita (Danandjaja 1991: 139).

2.2.3 Pendekatan Integratif
Dalam kurikulum 2004 ini, siswa dituntut untuk menguasai empat keterampilan baik itu keterampilan berbahasa dan bersastra. Guru harus bisa memilih pendekatan yang sesuai pada setiap proses pembelajaran. Hal itu diharapkan agar hasil yang dicapai siswa bisa maksimal.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, integratif interbidang studi lebih banyak digunakan. Saat guru dalam pembelajaran menyimak itu menggunakan pembelajaran menyimak maka perpindahannya diatur secara tipis. Bahkan, guru yang pandai mengintegrasikan penyampaian materi dapat menyebabkan siswa tidak merasakan perpindahan materi.
Integratif sangat diharapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia oleh kurikulum berbasis kompetensi ini. Pengintegrasiannya diaplikasikan sesuai kompetensi dasar yang perlu dimiliki siswa. Materi tidak bisa dipisah-pisahkan. Materi ajar harus dikemas secara menarik.
Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, empat keterampilan yang ada tidak bisa terpusat penyajiannya. Hal itu dikarenakan antara satu keterampilan dengan keterampilan yang lain saling berkaitan atau berhubungan. Penggunaan satu keterampilan biasanya dipadukan dengan ketrampilan berbahasa yang lain. Itu dilakukan oleh pengajar agar proses pembelajaran berhasil dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Pada penelitian kali ini, peneliti memadukan antar keterampilan berbahasa yang satu dengan yang lain. Penekanan yang dipakai dalam penelitian kali ini adalah keterampilan menyimak akan tetapi dipadukan dengan keterampilan berbicara. Hal itu dilakukan agar guru bisa mengetahui seberapa tingkat daya simak siswa. Oleh karena itu, penelitian ini dipadukan dengan keterampilan berbicara, membaca, dan menulis.

2.3 Kerangka Berpikir
Menyimak merupakan salah satu keterampilan yang ada dalam kurikulum 2004 tersebut. Menyimak adalah suatu proses kegiatan yang dimulai dari mendengarkan sampai dengan memahami untuk memperoleh informasi dan pesan yang terkandung dari ujaran secara lisan dari pembicara. Proses pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dalam kelas selalu mengalami hambatan baik dari guru maupun siswa. Masalah yang ada pada siswa meliputi kondisi fisik siswa yang malas mengikuti pembelajaran menyimak jika jam terakhir pelajaran, siswa meremehkan pembelajaran menyimak, siswa merasa bosan ketika ada pembelajaran menyimak, dan materi simakan yang ada kurang menarik perhatian siswa. Masalah yang dialami guru ketika sedang pembelajaran menyimak dongeng adalah guru belum menggunakan pendekatan yang tepat dan bervariasi dalam pembelajaran menyimak. Guru juga belum menggunakan teknik penyajian pembelajaran menyimak yang sesuai dan tepat.
2.4 Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah adanya peningkatan keterampilan menyimak dongeng dan perubahan perilaku pada siswa kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ setelah dilakukan proses pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif dan melalui teknik dengar-cerita.


BAB III
METODE PENELITIAN


Dalam bab ini yang dibahas adalah (1) desain penelitian, (2) subjek penelitian, (3) variabel penelitian, (4) instrumen penelitian, (5) teknik pegumpulan data, dan (6) teknik analisis data.
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini peneliti menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang merupakan bentuk kajian yang sistematis reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi pembelajaran (Depdiknas 2004: 7).
Penelitian tindakan kelas bersifat reflektif artinya dalam proses penelitian, guru sekaligus sebagai peneliti yang memikirkan apa dan mengapa suatu tindakan terjadi di kelas, dari pemikiran itu kemudian guru mencari pemecahannya melalui tindakan-tindakan tertentu (Suyatno dalam Depdiknas 2004: 7).
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam bentuk siklus yang terdiri atas empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tindakan dalam penelitian ini, rencananya akan dilakukan dalam dua siklus, seperti dalam gambar berikut.
Text Box:  Text Box: Siklus IIPerencanaan                                        Perencanaan Ulang
Siklus I yang meliputi perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi merupakan awal kegiatan untuk mengetahui kondisi awal siswa mengenai kemampuan siswa dalam pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita. Dengan adanya refleksi pada proses tindakan pada siklus I, akan muncul pemikiran baru guna mengatasi permasalahan tersebut sehingga memerlukan perencanaan ulang, tindakan ulang, dan refleksi ulang pada siklus II.
Siklus I bertujuan untuk mengetahui keterampilan menyimak dongeng siswa, kemudian dipakai sebagai refleksi untuk melakukan siklus II. Siklus II bertujuan untuk mengetahui peningkatan keterampilan menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita setelah dilakukan perbaikan terhadap proses pemelajaran yang didasarkan pada refleksi siklus I.


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diuraikan pada bagian ini meliputi hasil tes dan nontes, baik siklus I maupun siklus II. Hasil tes berupa penilaian hasil tes menceritakan isi dongeng pada pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, sedangkan hasil nontes berupa hasil lembar observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian yang berupa tes diuraikan dalam bentuk deskriptif data kualitatif.
4.1.1 Hasil Pratindakan
Hasil tes pratindakan berupa keterampilan menyimak dongeng siswa sebelum dilakukan penelitian. Pratindakan dimaksudkan untuk mengetahui keterampilan siswa dalam menyimak khususnya menyimak dongeng sebelum dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Hasil tes pratindakan perlu dianalisis untuk mengetahui kondisi awal keterampilan menyimak dongeng. Pada pratindakan guru meminta siswa untuk menyimak dongeng dengan judul “Kancil dan Buaya” yang dibacakan guru. Tes yang dilakukan adalah menceritakan isi dongeng dengan judul “Kancil dan Buaya” yang dibacakan oleh guru. Penilaian yang dilakukan meliputi tes indikator menjelaskan isi dongeng pada pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif
melalui teknik dengar-cerita dan penilaian aspek menceritakan isi dongeng. Hasil tes pratindakan dapat dilihat pada tabel berikut.
4.1.1.1 Hasil Tes Menceritakan Isi Dongeng Pratindakan
Di bawah ini adalah hasil tes menceritakan isi dongeng pratindakan yang berupa skor komulatif dan nilai komulatif. Berikut adalah skor komulatif menyimak dongeng pratindakan


Tabel 7. Skor Komulatif Menyimak Dongeng Pratindakan
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
68-80
0
0
0
629/13=48,38
2.
Baik
56-67
5
321
3 8,46
berkategori cukup
3.
Cukup
44-55
2
98
15,39

4.
Kurang
0-43
6
210
46,15

Jumlah
13
629
100


Skor komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 7. Dari tabel tersebut menunjukkan tidak ada siswa yang mencapai skor dalam kategori sangat baik dengan rentang skor 68-80 tidak dicapai oleh siswa, untuk kategori baik 56-67 dicapai oleh 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 %. Untuk kategori cukup dengan rentang skor 44-55 dicapai oleh 2 siswa yang berarti persentasinya sebesar 15,39 %. Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-43 dicapai oleh 6 siswa, berarti persentasinya
sebesar 46,15 %. Rata-rata skor komulatif yaitu 629:13=48,38. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada skor komulatif menyimak dongeng secara klasikal berkategori cukup.
Berikut adalah nilai komulatif menyimak dongeng pratindakan
Tabel 8. Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Pratindakan
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Nilai

Nilai


1.
Sangat Baik
85-100
0
0
0
788/13=60,61
2.
Baik
70-84
5
325
38,46
berkategori cukup
3.
Cukup
55-69
2
122
15,39

4.
Kurang
0-54
6
263
46,15

Jumlah
13
788
100



Nilai komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 8. Dari tabel tersebut tidak ada siswa yang mencapai nilai dalam kategori sangat baik dengan rentang nilai 85-100, untuk kategori baik 70-84 dicapai oleh 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 %. Untuk kategori cukup dengan rentang nilai 55-69 dicapai oleh 2 siswa yang berarti persentasinya sebesar 15,39 %. Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang nilai 0-54 dicapai oleh 6 siswa, berarti persentasinya sebesar 46,15 %. Rata-rata skor komulatif yaitu 788:13=60,61. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada nilai komulatif menyimak dongeng secara klasikal berkategori cukup.
Lebih jelasnya hasil tes siswa pada keterampilan menyimak dongeng sebelum dilakukan tindakan, dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 1. Grafik Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Pratindakan
Pada grafik di atas maka dapat diketahui hasil tes siswa pada pratindakan tidak ada yang menunjukkan kategori sangat baik. Untuk kategori baik sebesar 3 8,46 %. Sedangkan untuk kategori cukup hanya 15,3 9 %. Pada kategori kurang mencapai 46,15 %. Berarti pada pratindakan kategori tertinggi dicapai oleh kategori kurang. Perolehan nilai masing-masing siswa dapat dilihat pada grafik di bawah ini
Gambar 2. Grafik Pencaran Nilai Pratindakan
Pada grafik 2 di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa memperoleh nilai antara 30-65 yaitu sebanyak 8 siswa. Selebihnya ada 5 siswa yang mencapai nilai antara 75-90.
4.1.1.2 Hasil Tes pada Aspek-aspek Menceritakan Isi Dongeng Pratindakan
Hasil tes pada menceritakan isi dongeng mencakup 6 aspek dalam pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, yaitu (1) kesesuaian isi dongeng, (2) tokoh dan perwatakan, (3) latar, (4) mimik, (5) pilihan kata, dan (6) penyusunan kalimat.
1. Hasil Tes Aspek Kesesuaian Isi Dongeng Pratindakan
Hasil tes aspek kesesuaian isi dongeng difokuskan pada ketepatan siswa dalam menentukan isi dongeng. Hasil tes dari aspek kesesuaian isi dongeng pratindakan dapat dilihat dari tabel berikut.


Tabel 9. Hasil Tes Aspek Kesesuaian Isi Dongeng Pratindakan
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
16-20
0
0
0
136/13=10,46
2.
Baik
11-15
6
85
46,15
berkategori cukup
3.
Cukup
6-10
6
46
46,15

4.
Kurang
0-5
1
5
7,70

Jumlah
13
136
100


Tabel 9 di atas terlihat dari kategori sangat baik dengan rentang skor 16-20 belum ada satu siswa pun yang mendapat skor tersebut. Untuk kategori baik dengan rentang skor 11-15 dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 46,15 %. Kategori cukup dengan rentang skor 6-10 sebanyak 6 siswa yang mencapai kategori tersebut atau sebesar 46,15 %. Sedangkan untuk kategori kurang rentang skor 0-5 dicapai oleh 1 siswa atau 7,70 %. Rata-rata kelas dalam penilaian aspek ini adalah sebesar 136/13=10,46 dan termasuk dalam kategori cukup.
2. Hasil Tes Aspek Tokoh dan Perwatakan Pratindakan
Hasil tes aspek tokoh dan perwatakan difokuskan pada ketepatan siswa menyebutkan tokoh dan perwatakan yang terdapat dalam dongeng. Berikut adalah tabel hasil tes menyimak dongeng dengan aspek tokoh dan perwatakan.
Tabel 10. Hasil Tes Aspek Tokoh dan Perwatakan Pratindakan
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
16-20
0
0
0
122/13=9,38
2.
Baik
11-15
6
85
46,15
berkategori
3.
Cukup
6-10
2
13
15,39
cukup
4.
Kurang
0-5
5
24
3 8,46

Jumlah
13
122
100


Nilai dalam tabel 10 di atas bahwa hasil tes menyimak dongeng untuk aspek tokoh dan perwatakan, yaitu untuk kategori sangat baik belum ada satu pun siswa yang mencapai nilai tersebut. Nilai dalam kategori baik dengan rentang skor 11-15 dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 46,15 %. Kemudian untuk kategori cukup dicapai oleh 2 siswa atau 15,39 %. Dan untuk kategori kurang dicapai 5 siswa atau sebesar 38,46 %. Nilai rata-rata kelas dalam aspek ini adalah sebesar 122/13=9,38 dan termasuk dalam kategori cukup.
3. Hasil Tes Aspek Latar Pratindakan
Hasil tes aspek latar difokuskan pada ketepatan siswa dalam menentukan latar yang terdapat dalam dongeng. Di bawah ini adalah hasil tes menyimak dongeng pada aspek latar.
Tabel 11. Hasil Tes Aspek Latar Pratindakan
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
9-10
11
99
84,62
111/13=8,5
2.
Baik
7-8
1
7
7,69
berkategori baik
3.
Cukup
4-6
1
5
7,69

4.
Kurang
0-3
0
0
0

Jumlah
13
111
100


Pada tabel 11 di atas, hasil tes menyimak dongeng pada aspek latar, yaitu untuk kategori sangat baik dicapai oleh 11 siswa atau sebesar 84,62 %. Sedangkan untuk kategori baik dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 7,69 %. Dan untuk kategori cukup dengan rentang skor 4-6 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 7,69 %. Dan kategori kurang dengan rentang skor 0-3 tidak ada satupun siswa yang mencapai nilai tersebut. Rata-rata kelas dalam penilaian menyimak dongeng aspek latar adalah sebesar 111/13=8,5 dan termasuk dalam kategori baik.

4.1.2 Refleksi
Hasil sementara yang dicapai siswa dalam menyimak dongeng pada siswa kelas 2 SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................ masih jauh dari harapan. Hal ini karena nilai rata-rata siswa dalam pembelajaran menyimak adalah 60,6 1 dan termasuk dalam kategori cukup. Target yang diinginkan peneliti adalah 70. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dan teknik yang tepat agar siswa dapat mencapai hasil yang maksimal.
Pratindakan bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam pembelajaran menyimak dongeng sebelum diadakan tindakan. Proses pembelajaran menyimak dongeng dilakukan dengan membacakan dongeng oleh guru dan siswa diminta untuk menyimak. Nilai rata-rata yang diperoleh adalah 60,61. Berdasarkan hasil pengamatan maka dapat diketahui bahwa siswa kurang berminat dalam pembelajaran dongeng sehingga banyak siswa yang berperilaku negatif.
Berdasarkan serangkaian analisis tersebut maka peneliti ingin meningkatkan lagi hasil keterampilan menyimak dongeng kelas II SD Negeri 2 ................ Kecamatan ................. Peningkatan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan tindakan siklus I dengan pendekatan integatif melalui teknik dengar-cerita.
4.1.3 Hasil Siklus I
Setelah dilakukan tes pratindakan, hasilnya masih kurang memuaskan, peneliti pada siklus I memberikan pembelajaran keterampilan menyimak, khususnya pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Hasil penelitian penelitian pada siklus I ini berupa hasil tes
untuk mengukur pemahaman isi dongeng yang disimak dan hasil nontes yang terdiri atas hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Berikut ini hasil penelitian siklus I.
4.1.3.1 Hasil Tes
Pada siklus I siswa menyimak dongeng dengan judul “Anjing, Kucing, dan Burung Gagak”. Dari dongeng yang telah disimak siswa menceritakan kembali isi dongeng. Tes pada penelitian ini berupa penjelasan isi dongeng yang diceritakan siswa. Tujuan dari tes tersebut adalah untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap dongeng yang telah disimak. Berikut adalah hasil tes menceritakan isi dongeng pada pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita.

4.1.3.1.1 Hasil Tes Menceritakan Isi Dongeng Siklus I
Berikut adalah hasil tes menceritakan isi dongeng yaitu skor komulatif menyimak dongeng dan nilai komulatif menyimak dongeng pada siklus I. Tabel 15. Skor Komulatif Menyimak Dongeng Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
68-80
1
71
7,69
696/13=53,5
2.
Baik
56-67
5
317
38,46
berkategori cukup
3.
Cukup
44-55
3
193
23,08

4.
Kurang
0-43
4
115
30,77

Jumlah
13
696
100

Skor komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 15. Dari tabel tersebut menunjukkan siswa yang mencapai skor dalam kategori sangat baik dengan rentang 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 %. Untuk kategori cukup dengan rentang skor 44-55 dicapai oleh 3 siswa yang berarti persentasinya sebesar 23,08 %. Ada 4 siswa atau 30,77 % yang mencapai untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-43. Rata-rata skor komulatif yaitu 696:13=53,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada skor komulatif menyimak dongeng secara klasikal berkategori cukup.
Berikut adalah nilai komulatif menyimak dongeng siklus I
Tabel 16. Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Nilai

Nilai


1.
Sangat Baik
85-100
1
89
7,6
872/13=67,08
2.
Baik
70-84
5
397
38,46
berkategori cukup
3.
Cukup
55-69
3
188
23,08

4.
Kurang
0-54
4
242
30,77

Jumlah
13
873
100


Skor komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 16. Dari tabel tersebut menunjukkan tidak ada siswa yang mencapai skor dalam kategori sangat baik dengan rentang skor 85-100 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 7,6 %, untuk kategori baik 70-84 dicapai oleh 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 %. Untuk kategori cukup dengan rentang skor 55-69 dicapai oleh 3 siswa yang berarti persentasinya sebesar 23,08 %. Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-54 dicapai oleh 4 siswa atau
30,77 %. Rata-rata skor komulatif yaitu 872:13=67,08. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada nilai komulatif menyimak dongeng secara klasikal berkategori cukup.
Lebih jelasnya hasil tes siswa pada siklus I yang telah mendapatkan tindakan dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 3. Grafik Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Siklus I
Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa ada perubahan dari pratindakan ke siklus I. Pada kategori sangat baik sama seperti pratindakan yaitu sebesar7,6 %. Untuk kategori baik mengalami peningkatan menjadi 3 8,46 %. Untuk kategori cukup juga mengalami peningkatan menjadi 23,08 %. Sedangkan untuk kategori kurang mengalami penurunan menjadi menjadi 30,77 %. Perolehan nilai dari masing-masing siswa pada siklus I dapat dilihat pada grafik di bawah ini.
Gambar 4. Grafik Pencaran Nilai Siklus I
Pada grafik 4 di atas maka dapat dilihat hanya ada 4 siswa yang mendapat nilai dengan kategori 0-54. Untuk kategori cukup dicapai oleh 3 siswa. Sedangkan untuk kategori baik ada 5 siswa yang mencapai nilai antara 70-84. Pada kategori sangat baik hanya dicapai 1 siswa.
4.1.3.1.2 Hasil Tes pada Aspek-aspek Menceritakan Isi Dongeng Siklus I
Pada siklus I ini hasil tes aspek pada pembelajaran menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita melalui pendekatan integratif mencakup 6 aspek, yaitu (1) kesesuaian isi dongeng, (2) tokoh dan perwatakan, (3) latar, (4) mimik, (5) pilihan kata, dan (6) penyusunan kalimat.
Hasil tes aspek kesesuaian isi dongeng difokuskan pada ketepatan siswa menjelaskan isi dongeng dengan sesuai. Di bawah ini adalah hasil tes menyimak dongeng pada aspek kesesuaian isi dongeng.

Tabel 17. Hasil Tes Aspek Kesesuaian Isi Dongeng Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
16-20
1
18
7,70
138/13=10,6
2.
Baik
11-15
6
74
46,15
berkategori cukup
3.
Cukup
6-10
6
46
46,15

4.
Kurang
0-5
0
0
0

Jumlah
13
138
100


Pada tabel 17 di atas menunjukkan bahwa siswa yang mencapai kategori sangat baik dengan rentang skor 16-20 sebanyak 1 siswa atau sebesar 7,70 %. Untuk kategori baik dengan rentang skor 11-15 dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 46,15 %. Dan untuk kategori cukup dengan rentang skor 6-10 dicapai oleh 6 siswa atau sebesar 46,15 %. Adapun untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-5 tidak ada satu pun siswa yang mencapai nilai tersebut. Nilai rata-rata kelas pada aspek ini adalah 138/13=10,6 dan termasuk dalam kategori cukup.
Hasil tes aspek tokoh dan perwatakan difokuskan pada ketepatan siswa dalam menentukan tokoh dan perwatakan dalam menentukan tokoh dan perwatakan yang terdapat dalam dongeng. Berikut adalah hasil tes menyimak dongeng aspek tokoh dan perwatakan.
Tabel 18. Hasil Tes Aspek Tokoh dan Perwatakan Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
16-20
1
16
7,69
139/13=10,7
2.
Baik
11-15
6
81
46,15
berkategori cukup
3.
Cukup
6-10
5
37
38,47

4.
Kurang
0-5
1
5
7,69

Jumlah
13
139
100


Pada tabel 18 di atas, hasil tes menyimak dongeng untuk aspek tokoh dan perwatakan, yaitu untuk kategori sangat baik dengan rentang skor 16-20 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 7,69 %. Nilai dalam kategori baik dengan rentang skor 11-15 sebanyak 6 siswa atau 46,15 % siswa yang mencapai nilai tersebut. Adapun untuk kategori cukup dengan rentang skor 6-10 dicapai 6 siswa atau 46,15 % yang mendapat nilai tersebut. Dan untuk kategori kurang dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 7,69 %. Nilai rata-rata kelas dalam aspek ini adalah 139/13=10,7 dan termasuk dalam kategori cukup.
3.    Hasil Tes Aspek Latar Siklus I
Hasil tes aspek latar difokuskan pada ketepatan siswa dalam menentukan latar yang terdapat dalam dongeng. Di bawah ini adalah daftar hasil tes menyimak dongeng pada aspek latar.
Tabel 19. Hasil Tes Aspek Latar Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
9-10
9
85
69,23
111/13=8,53
2.
Baik
7-8
3
8
23,07
berkategori baik
3.
Cukup
4-6
1
18
7,7

4.
Kurang
0-3
0
0
0

Jumlah
13
111
100


Pada tabel 18 di atas, hasil tes menyimak dongeng pada aspek latar, yaitu untuk kategori sangat baik dicapai oleh 9 siswa atau sebesar 69,23 %. Sedangkan untuk kategori baik dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 23,07 %. Dan untuk kategori cukup dengan rentang skor 4-6 maka 1 siswa atau 7,7 % yang mencapai nilai tersebut. Kemudian untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-3 tidak dicapai oleh satu siswa pun. Rata-rata kelas dalam hasil tes menyimak dongeng aspek latar adalah sebesar 111/13=8,53 dan termasuk dalam kategori baik.
4.    Hasil Tes Aspek Mimik Siklus I
Hasil tes aspek ejaan difokuskan pada raut wajah siswa saat menceritakan isi dongeng. Di bawah ini adalah tabel hasil tes menyimak dongeng pada aspek ejaan dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 20. Hasil Tes Aspek Mimik Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
9-10
11
84
84,61
115/13=8,8
2.
Baik
7-8
2
31
15,39
berkategori baik
3.
Cukup
4-6
0
0
0

4.
Kurang
0-3
0
0
0

Jumlah
13
115
100

Tabel 19 di atas adalah hasil tes menyimak dongeng aspek ejaan dan terlihat dari kategori sangat baik dengan rentang skor 9-10 dicapai oleh 11 siswa atau sebesar 84,61 %. Untuk kategori baik dengan rentang skor 7-8 dicapai oleh 2 siswa atau 15,39 %. Dan kategori cukup dengan rentang skor 4-6, dan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-3 tidak dicapai oleh siswa satu pun. Rata-rata kelas dalam penilaian menyimak dongeng pada aspek ini adalah 115/13=8,8. Dan termasuk dalam kategori baik.
5. Hasil Tes Aspek Pilihan Kata Siklus I
Hasil tes pada aspek pilihan kata difokuskan dalam memilih kata dalam menjelaskan isi dongeng. Di bawah ini adalah tabel hasil tes menyimak dongeng pada aspek pilihan kata.
Tabel 21. Hasil Tes Aspek Pilihan Kata Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
9-10
4
39
30,77
92/13=7,1
2.
Baik
7-8
3
23
23,08
berkategori baik
3.
Cukup
4-6
6
30
46,15

4.
Kurang
0-3
0
0
0

Jumlah
13
107
100


Pada tabel 20 di atas, nilai menyimak dongeng untuk aspek pilhan kata, yaitu untuk kategori sangat baik dengan rentang skor 9-10 dicapai oleh 4 siswa atau sebesar 30,77 %. Untuk kategori baik dengan rentang skor 7-8 dicapai oleh 3 siswa atau 23,08 %. Kemudian untuk kategori cukup dengan rentang skor 4-6 dicapai oleh 6 siswa atau 46,15 % dan kategori kurang dengan rentang skor 0-3 tidak satu pun siswa yang mencapai nilai tersebut. Rata-rata kelas dalam penilaian aspek ini adalah 92/13=7,1 dan termasuk dalam kategori baik.
6. Hasil Tes Aspek Penyusunan Kalimat Siklus I
Hasil tes aspek penyusunan kalimat difokuskan dalam menyusun kalimat dalam menjelaskan isi dongeng. Di bawah ini adalah hasil tes menyimak dongeng pada aspek penyusunan kalimat.

Tabel 22. Hasil Tes Aspek Penyusunan Kalimat Siklus I
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
9-10
6
57
46,15
101/13=7,7
2.
Baik
7-8
4
30
30,77
berkategori baik
3.
Cukup
4-6
3
14
23,08

4.
Kurang
0-3
0
0
0

Jumlah
13
101
100


Pada tabel 21 di atas adalah hasil tes menyimak dongeng pada aspek penyusunan kalimat, yaitu ada 6 siswa atau 46,15 % yang mencapai kategori sangat baik dengan rentang skor 9-10. pada kategori baik dengan rentang skor 7-8 dicapai oleh 4 siswa atau sebesar 30,77 %. Dan untuk kategori cukup dengan rentang skor 4-6 dicapai oleh 3 siswa atau 23,08 %. Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-3 tidak ada satu pun siswa yang mencapai nilai tersebut. Rata-rata kelas dalam hasil tes menyimak dongeng pada aspek ini adalah 101/13=7,7 dan termasuk dalam kategori baik.
4.1.3.2 Hasil Nontes
Hasil nontes diperoleh dari hasil observasi, jurnal siswa, jurnal guru, wawancara, dan dokumentasi foto. Berikut uraian hasil nontes selengkapnya. 4.1.3.2.1 Hasil Observasi
Pelaksanaan observasi dilakukan selama penelitian berlangsung dan ditekankan pada kegiatan pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Hasil dari observasi kegiatan menyimak dongeng adalah sebagian besar siswa sudah melaksanakan sesuai dengan petunjuk dan penuh antusias selama kegiatan menyimak berlangsung. Berikut adalah data observasi keseluruhan yang diperoleh selama proses pembelajaran keterampilan menyimak dongeng melalui pendekatan integratif dengan teknik dengar-cerita pada siklus I.


Tabel. 23 Hasil Observasi Siklus I
Keterangan

Ya

Tidak
Jumlah
Siswa
Persentase
Jumlah
Siswa
Persentase
1. Sikap Positif




a. Serius mengikuti pembelajaran menyimak dongeng
9
69,23
4
30,77
b. Menyimak dengan penuh perhatian
9
69,23
4
30,77
c. Keberanian menceritakan isi dongeng di depan kelas
9
69,23
4
30,77
d. Mengikuti proses dengar- cerita dengan baik
5
38,46
8
61,54
2. Sikap Negatif




e. Meremehkan kegiatan menyimak
2
15,3 8
11
84,62
f. Mengganggu teman pada saat
menyimak
0
0
13
100
g.     Berbicara sendiri pada saat
menyimak
2
15,3 8
11
84,62
h. Mengeluh pada saat diberi tugas untuk melakukan
proses dengar-cerita
3
23,08
10
76,92
i. Menyimak tidak serius
3
23,08
10
76,92

Perilaku siswa dalam melaksanakan teknik dengar-cerita selama pembelajaran menyimak dongeng berlangsung ditunjukkan oleh sikap yang positif dan sikap negatif. Perilaku positif tampak pada sikap siswa yang antusias selama mengikuti kegiatan menyimak dongeng. Hal ini terlihat dari keseriusan siswa dalam pembelajaran menyimak dongeng. Perilaku positif yang lain yaitu ketika siswa menyimak dengan penuh perhatian. Keberanian menceritakan isi dongeng di depan kelas adalah perilaku positif selanjutnya. Pada saat proses teknik dengar-cerita siswa sudah mengikuti dengan baik.

4.1.3.2.2 Hasil Jurnal
Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini adalah jurnal siswa dan jurnal guru. Jurnal siswa berisi tanggapan siswa mengenai pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Pada jurnal siswa ini, siswa hanya memilih jawaban yang sesuai dengan tanggapan mereka mengenai pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita tanpa disertai alasan. Hal itu disebabkan subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas 2 SD. Sedangkan jurnal guru berisi mengenai keaktifan dan perilaku siswa selama mengikuti pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Berikut ini adalah uraian tentang hasil jurnal siswa dan jurnal guru.
1. Jurnal Siswa
Tabel 24 Hasil Jurnal Siswa Siklus I
No.         Pilihan Jawaban        Frekuensi           Persentase
1.
a. Ya
a. 11
a. 84,6 %

b. Tidak
b. 2
b. 15,4 %
2.
a. Mudah
a. 10
a. 76,92 %

b. Tidak Mudah
b. 3
b. 23,08 %
3.
a. Ya
a. 4
a. 30,8 %

b. Tidak
b. 9
b. 69,2 %
4.
a. Senang
a. 12
a. 92,3 %

b. Tidak Senang
b. 1
b. 7,7 %

Menurut hasil jurnal yang ditulis oleh siswa dan terlihat pada tabel 23 maka umumnya semua siswa merasa tertarik dan senang terhadap pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Aspek-aspek jurnal yang diisi oleh siswa meliputi (1) tertarik dan tidaknya siswa terhadap pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, (2) penjelasan guru tentang pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, (3) kesulitan siswa dan tidaknya siswa ketika melakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, (4) perasaan siswa setelah melakukan pembelajaran keterampilan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Berikut uraian data hasil jurnal siswa pada siklus I.
2. Jurnal Guru
Kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menyimak dongeng, diikuti oleh siswa dengan antusias karena pada awal pembelajaran peneliti menjelaskan bahwa pembelajaran hari itu akan menyimak dongeng. Siswa sangat senang karena siswa suka mendengarkan cerita khususnya dongeng. Untuk keaktifan siswa dalam melakukan proses integratif pada pembelajaran menyimak dongeng, hampir semua siswa sudah melakukan dengan baik sesuai apa yang diperintahkan oleh peneliti. Meskipun masih ada siswa yang belum melakukan dengan baik. Untuk tanggapan siswa terhadap proses integratif pada kegiatan menyimak berlangsung, sebagian siswa merasa senang dan tertarik.
Perilaku siswa pada saat menyimak dongeng berlangsung adalah semua siswa menyimak dengan serius, menyimak dengan penuh perhatian, keberanian menceritakan isi dongeng di depan kelas, mengikuti proses teknik dengar-cerita dengan baik meskipun ada sebagian siswa yang berperilaku negatif pada saat kegiatan menyimak.
4.1.3.2.3 Hasil Wawancara
Wawancara pada siklus I dilakukan kepada siswa yang mendapat nilai tinggi, nilai sedang, dan nilai rendah. Wawancara ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Pertanyaan yang disusun oleh peneliti meliputi (1) apakah siswa senang dan tertarik terhadap pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita, (2) apakah penjelasan guru mengenai proses integratif mudah dipahami pada pembelajaran menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita, (3) apakah siswa tertarik dengan proses integratif pada kegiatan menyimak dongeng yang sedang berlangsung, dan (4) bagaimana perasaan siswa ketika melakukan proses integratif pada kegiatan menyimak dongeng.
Siswa yang mendapat nilai rendah secara keseluruhan dapat mengikuti pembelajaran menyimak dengan baik, meskipun ada beberapa siswa yang kurang
baik saat pembelajaran menyimak dongeng berlangsung. Siswa yang mendapat nilai rendah menyatakan senang terhadap pembelajaran menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita tetapi kurang tertarik terhadap pembelajaran menyimak dongeng tersebut. Selanjutnya siswa yang mendapat nilai rendah menyatakan penjelasan guru mengenai proses integratif sulit dipahami pada pembelajaran menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita. Siswa tersebut menyatakan bahwa siswa kurang tertarik terhadap proses integratif yang sedang berlangsung pada pembelajaran menyimak dongeng. Perasaan siswa yang mendapat nilai rendah ketika mengikuti pembelajaran menyimak dongeng melalui pendekatan integratif adalah senang.
4.1.4 Refleksi Siklus I
Setelah dilakukan pembelajaran pada siklus I maka hasil pembelajaran menyimak dongeng yang dicapai siswa belum mencapai nilai ketuntasan belajar sebesar 70. Nilai rata-rata kelas yang dicapai baru sebesar 67,08 dan masih harus ditingkatkan lagi menjadi lebih baik. Hal itu disebabkan oleh ada beberapa aspek yang nilainya kurang memuaskan. Selain itu, masih ada siswa yang berperilaku negatif, misalnya meremehkan kegiatan menyimak, mengganggu teman pada saat
menyimak, berbicara sendiri atau dengan teman pada saat menyimak, dan menyimak dengan tidak serius.
Dari hasil observasi pada siklus I maka dapat dilihat beberapa perilaku negatif yang ditunjukkan oleh siswa. Misalnya meremehkan kegiatan menyimak, mengganggu teman pada saat menyimak, berbicara sendiri atau dengan teman pada saat menyimak, dan menyimak dengan tidak serius. Jadi, perilaku negatif siswa tersebut harus diperbaiki lagi ke arah yang lebih baik untuk keberhasilan siklus berikutnya.

Siswa yang telah mencapai nilai yang baik disebabkan mereka menyimak dengan baik dan materi yang diterangkan guru diperhatikan dengan baik. Untuk mencapai pembelajaran yang sesuai dengan harapan guru maka kendala-kendala yang ada dalam pembelajaran menyimak dongeng harus dicarikan solusi yang terbaik kemudian diterapkan dalam pembelajaran. Hal-hal yang dilakukan guru berkenaan dengan upaya perbaikan yang kemudian diterapkan dalam pembelajaran selanjutnya adalah sebagai berikut. Pertama, guru merefleksi hasil tes dan nontes pada siklus I. Kedua, guru memberikan motivasi pada siswa yaitu dengan memberikan hadiah bagi siswa yang mau maju membacakan hasil pekerjaannya. Ketiga, guru menjelaskan kesalahan-kesalahan ketika mengerjakan tugas yang diberikan guru. Perbaikan­perbaikan ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menyimak dongeng pada siklus berikutnya.

4. 1. 5 Hasil Siklus II
Dongeng yang telah disimak siswa pada siklus II adalah “Pipit yang Ajaib”. Hasil pada siklus II adalah sebagai berikut.
4.1.5.1 Hasil Tes
Setelah dilakukan tes siklus I, peneliti pada siklus II memberikan pembelajaran kembali untuk mengukur peningkatan menyimak dongeng dengan pendekatan integratif melalui teknik dengar-cerita. Hasil penelitian pada siklus II, sama dengan siklus I yaitu berupa hasil tes menjelaskan isi dongeng pada
pembelajaran menyimak dongeng dengan teknik dengar-cerita melalui pendekatan integratif. Sedangkan hasil nontes yang terdiri atas hasil observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto.
4.1.5.1.1 Hasil Tes Menceritakan Isi Dongeng Siklus II
Berikut adalah hasil tes menceritakan isi dongeng yaitu skor komulatif menyimak dongeng dan nilai komulatif menyimak dongeng pada siklus II. Berikut adalah skor komulatif menyimak dongeng siklus II


Tabel 25. Skor Komulatif Menyimak Dongeng Siklus II
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Skor

Skor


1.
Sangat Baik
68-80
4
299
30,77
790/13=60,77
2.
Baik
56-67
5
302
3 8,46
berkategori baik
3.
Cukup
44-55
4
189
30,77

4.
Kurang
0-43
0
0
0

Jumlah
13
790
100


Skor komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 25. Dari tabel tersebut menunjukkan siswa yang mencapai skor dalam kategori sangat baik dengan rentang skor 68-80 dicapai oleh 4 atau sebesar 30,77 %, untuk kategori baik dicapai oleh 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 % dengan rentang 56-67. Untuk kategori cukup dengan rentang skor 44-55 dicapai oleh 4 siswa yang berarti persentasinya sebesar 30,77 %. Untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-43. Rata-rata skor komulatif yaitu 790:13=60,77. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada skor komulatif menyimak dongeng secara klasikal berkategori baik.
Berikut adalah nilai komulatif menyimak dongeng siklus II
Tabel 26. Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Siklus II
No
Kategori
Rentang
Frekuensi
Bobot
%
Rata-rata


Nilai

Nilai


1.
Sangat Baik
85-100
4
374
30,77
990/13=76,15
2.
Baik
70-84
5
379
3 8,46
berkategori baik
3.
Cukup
55-69
4
237
30,77

4.
Kurang
0-54
0
0
0

Jumlah
13
990
100


Skor komulatif menyimak dongeng dapat dilihat tabel 26. Dari tabel tersebut menunjukkan ada 4 siswa atau sebesar 30,77 % yang mencapai skor dalam kategori sangat baik dengan rentang skor 85-100. Untuk kategori baik 70-84 dicapai oleh 5 siswa yang berarti sebesar 3 8,46 %. Dan kategori cukup dengan rentang skor 55-69 dicapai oleh 4 siswa yang berarti persentasinya sebesar 3 0,77 %. Sedangkan untuk kategori kurang dengan rentang skor 0-54 tidak dicapai oleh satu siswa satu pun,. Rata-rata skor komulatif yaitu 990:13=76,15.
Gambar 10. Grafik Nilai Komulatif Menyimak Dongeng Siklus II
Berdasarkan grafik di atas menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyimak dongeng mengalami peningkatan. Pada akhir pembelajaran siklus II ini pada kategori sangat baik menagalami peningkatan menjadi 3 0,77 %. Untuk kategori baik tidak mengalami penurunan maupun peningkatan. Untuk kategori cukup mengalami peningkatan menjadi 3 0,77 %. Pada kategori kurang mengalami penurunan menjadi 0 %. Dengan demikian siswa yang memperoleh nilai cukup sampai dengan nilai sangat baik mengalami peningkatan dari siklus I.
Perolehan nilai dari masing-masing siswa dapat dilihat grafik berikut ini.

Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar siswa memperoleh nila antara 60-95. Selebihnya yaitu ada 3 siswa yang mendapat nilai di bawah 60 tetapi masih masuk dalam kategori cukup.....dst (Untuk Info Lebih Lanjut Call/SMS/WA : 085258811535)
Labels: PTK SD

Thanks for reading PTK Bahasa Indonesia Kelas II. Please share...!

1 Comment for "PTK Bahasa Indonesia Kelas II"

Kaa blh mnta contoh instrumen tes nyaa??

Back To Top